Dialog 2: Dialog Ihwal Wujud Tuhan
Salah seorang sahabat saya yang kuliah di sebuah institute kedokteran
datang menemuiku dan berkata: di kampus kami ada seorang mahasiswa
komunis yang mana dia adalah orang yang mengingkari akan wujud dan
keberadaan tuhan, dan dia sangat kuat dalam berdiskusi dan berdebat,
meskipun kami berusaha semaksimal mungkin untuk membuat dia puas dan mau
menerima tentang wujud tuhan, namun tetap saja dia tidak mau mengalah,
sehingga sampai pada suatu kondisi dimana sebagian mahasiswa dijangkiti
keragu-raguan dikarenakan dialog-dialog serta bahasan tersebut, dan
bahkan tidak mau bertemu dengan seorang pun dari ulama yang ada, karena
yakin bahwa ulama-ulama itu adalah kaki tangan para penjajah dan tidak
mempunyai logika dan akhlak, dan saya tidak tahu lagi apa yang harus
saya perbuat dengannya?
Saya berkata: "Apakah Anda bisa mengajak dia untuk datang ke sini?"
Dia berkata: sudah pasti dia tidak akan mau ke sini.
Saya berkata: "Usahakan dengan berbagai macam cara Anda ajak dia ke sini."
Teman saya itu pergi dan beberapa bulan kemudian dia datang dengan
sekelompok mahasiswa. Setelah mengucapkan selamat datang, saya berjanji
dalam hati ingin memenangkan dialog ini di tengah teman-teman ateis ini,
sehingga semua kemuliaan palsu yang dimilikinya itu hancur berantakan.
Saya berkata pada komunis ateis itu: "Anda baik-baik saja kan?"
Dia berkata: "Teman-teman saya berkata padaku bahwa Anda siap berdiskusi dan berdebat dengan saya tentang keberadaan tuhan."
Saya berkata: "Betul, kalau menurut Anda bagaimana?"
Dia berkata: "Menurut saya tuhan itu tidak ada."
Saya berkata: "Tapi pandangan saya tidak seperti Anda. Malah sebaliknya pendapat saya Tuhan itu niscaya ada."
Dia berkata: "Apa dalilnya?"
Saya berkata: "Kalian para mahasiswa dikarenakan tidak belajar filsafat
maka saya tidak akan menjelaskan dan membuktikan secara filosofis akan
keberadaan tuhan, akan tetapi saya dengan terpaksa akan menjelaskan
tentang eksistensi Tuhan dengan menggunakan dalil sederhana yang mana
dalil-dalil semacam ini dipelajari oleh siswa-siswa kami yang masih
duduk di sekolah dasar."
Dia berkata: "Sangat menakjubkan, saya yang mengingkari eksistensi
Tuhan, dan saya mempunyai dalil yang kuat tentang itu, lalu orang
(ulama) ini ingin membuat saya puas dengan dalil-dalil sederhana yang
dipelajari oleh siswa-siswa sekolah dasar?!"
(Saya juga bermaksud untuk berkata seperti ini, hingga semakin dia
tinggi hati dan congkak dan saya akan hancurkan khayalan-khayalannya).
Kemudian dia pun berkata: "Apa dalil sederhana tersebut?"
Saya berkata: "Tuan! Saya akan memilikan salah satu dari empat jalan ini."
Dia berkata: "Apa maksud empat jalan ini?"
Saya berkata: "Pertama, apakah Anda sendiri yang menciptakan diri Anda?"
Dia berkata: "Tidak."
"Kedua, apakah yang menciptakan Anda adalah salah satu dari
makhluk-makhluk seperti bapak Anda, ibu Anda, bulan, matahari, air,
udara, ikan, burung dan telaga ataukah manusia lain?"
Dia berkata: "Tidak."
"Ketiga, apakah pencipta Anda adalah sesuatu yang tidak ada ('Adam)?"
Dia menjawab: "Tidak."
"Keempat, karena itu, Anda adalah makhluk yang diciptakan mempunyai akal
dan pikiran dan mempunyai daya dan kudrat, dan yang menciptakan hal itu
adalah Allah Swt."
Dia berkata: "Saya diciptakan oleh tabiat (nature)."
Saya berkata: "Apakah alam tabiat itu mempunyai akal, mempunyai
kekuatan, mempunyai pengetahuan?"Dia jadi diam seribu bahasa dan tidak
menjawab apa-apa.
Kemudian saya berkata: "Bapak! Saya tidak tahu kenapa kalian para
komunis tidak tahu sedikit pun tentang alam dan tabiat ini,
...sahabat-sahabat Anda berkata: Anda sangat cerdas dan pandai dalam
berdialog dan berdebat, tetapi sekarang jelaslah bagi saya bahwa Anda
ini hanya pantas berdialog dengan pelajar-pelajar sekolah dasar kami dan
bahkan tidak setara dengan mereka.! Seperti Anda ini ibarat seorang
yang menginkari ilmu kedokteran, namun ketika membahas masalah yang
paling sederhana dalam ilmu tersebut Anda hanya bisa diam dan tidak
memberikan komentar apa-apa."
Dengan adanya dialog dan bahasan semacam ini, nampaklah di wajah para
sahabat-sahabat rasa senang dan bahagia, dan pemuda komunis itu pun
menjadi malu dan kehilangan harga diri.
Kemudian saya pun berbicara beberapa kata kepadanya dan meminta maaf,
lalu berkata: "Sekarang, saya akan memberikan jawaban terhadap
pernyataan Anda yang mengatakan bahwa yang menciptakan Anda adalah alam
tabiat ini: Alam tabiat ini adalah sesuatu yang tidak ada, atau sesuatu
yang wujud (ada) yang mana tidak mempunyai akal dan daya paham, seperti
air dan udara dan tumbuhan."
"Dan matahari apakah sesuatu yang berakal, mempunyai kudrat, dan mengetahui?"
"Baik perkara yang 'tidak ada', tidak akan bisa menjadi pencipta, maupun
perkara yang 'ada' yang mana tidak mempunyai akal dan daya paham, juga
tidak akan pernah layak untuk menjadi pencipta. Karena itu sebuah
kemestian bahwa sang pencipta itu adalah sesuatu yang mempunyai akal,
daya, dan pengetahuan, dan wujud ini tidak lain adalah Allah Swt."
Salah seorang dari para mahasiswa itu berkata: "Siapa yang berkata bahwa Tuhan itu adalah pencipta?"
Saya berkata: "Kalau Tuhan bukan pencipta, siapa yang mencipta?" Dia tidak mempunyai jawaban.
Oleh karena itu, majlis sederhana ini pun berakhir, dan mereka
mengucapkan terima kasih kepada saya, lalu pergi, beberapa waktu
kemudian, saya berjumpa dengan sahabat saya yang menjadi media
penghubung ketika dialog di atas berlangsung, dan saya bertanya padanya:
"Apakah teman komunis Anda masih juga mengulangi
pernyataan-pernyataannya yang dulu?"
Teman saya menjawab: "Tidak! Dia sudah kehilangan wibawa dan teman-temannya pun menertawakan dia."
Saya berkata: "Jangan Anda mengganggu dia supaya tidak terjadi reaksi
negatif! Tetapi jalan terbaik bagi Anda adalah menemaninya dan bergaul
dengan baik dengannya."
(sumber : Dialog Islam dan Atheis by Team Wisdoms4all)
